|
Reporter : Harmoko
|
|
Thursday, 01 July 2010 |
|
Salah satu masalah besar dalam dunia politik Islam adalah apakah mungkin memberlakukan syariat Islam tanpa Negara Islam? Bukankah penerapan syariat Islam dengan sendirinya merupakan pembuka jalan masuk (akses) menuju Negara Islam? Persoalan ini telah menyulut perdebatan di kalangan pemikir politik Muslim sepanjang masa, meski di kalangan politik Muslim modern hampir tidak dijumpai kesepakatan bulat tentang apa sesungguhnya yang terkandung dalam konsep Negara Islam. Jawaban atas pertanyaan ini telah menimbulkan dua paham antara pendukung konsep Negara Islam dengan penolak tidak ada konsep tentang Negara Islam. Sejarah politik Islam bergulat dalam tarik-menarik dua paham ini. Berkaitan dengan ada atau tidak adanya konsep negara Islam, Gamal al-Banna menggambarkan jejak-jejak sejarah lahirnya apa yang masyhur dengan istilah negara. Sejarah yang bukan hanya diwarnai dengan hubungan yang haromis antara kekuasaan dan ideologi, tetapi juga diliputi oleh banyak konflik dan prasangka antara ideologi (agama) dan kekuasaan (negara). |
|
Pemutakhiran Terakhir ( Thursday, 01 July 2010 )
|
|
Selengkapnya...
|
|
|
Reporter : Harmoko
|
|
Thursday, 26 November 2009 |
Dalam buku Ihya Ulumuddin, Imam Al-Ghazali mengulas perbedaan epistemologi antara jalan 'Ulama dan Sufi. Sedangkan, uraian secara singkat, kita dapat menemuinya di buku Mursyidul Amin.  Kami mengulas hal ini karena tema ini adalah tema yang menarik. Kami menyuguhkan model untuk menggambarkannya secara artifisial. Maksudnya, model ini hanya gambaran, dan bukan merepresentasikan kondisi yang sesungguhnya. Singkatnya, uraian ini adalah ringkasan dari topik perbedaan metode shufiyah dan 'ulama di dalam Buku Ihya' Ulumuddin. |
|
Pemutakhiran Terakhir ( Thursday, 26 November 2009 )
|
|
Selengkapnya...
|
|
|
Reporter : Harmoko
|
|
Thursday, 29 October 2009 |
 Jika saya melihat ajaran agama, saya melihat banyak ajaran yang berupa kebiasaan seperti shalat, dzikir, tilawah, dan berbagai ibadah ritual lainnya. Ini artinya, kebiasaan memiliki kekuatan besar dalam hidup kita. Pencapaian kita ditentukan oleh kebiasaan kita. Bahkan Rasulullah saw mengatakan bahwa Allah SWT lebih menyukai kebiasaan beramal daripada amal besar hanya sesekali. |
|
Pemutakhiran Terakhir ( Thursday, 29 October 2009 )
|
|
Selengkapnya...
|
|
|
Reporter : Harmoko
|
|
Saturday, 20 June 2009 |
Peletakan batu pertama pembangunan masjid ini dilakukan oleh Sultan Mahmud Badaruddin I yang dimulai 1 Jumadil Akhir 1151 H (1738) dan diresmikan pada 28 Jumadil Awal 1161 (26 Mei 1748). Mesjid ini dulunya dikenal dengan nama Mesjid Sultan yang lokasi dibangunnya terletak di pulau yang dikelilingi sungai, sebelah Selatan Sungai Musi, sebelah barat Sungai Sekanak, sebelah Timur Sungai Tengkuruk, dan sebelah Utara Sungai Kapuran. |
|
Pemutakhiran Terakhir ( Sunday, 01 November 2009 )
|
|
Selengkapnya...
|
|
|
Reporter : Harmoko
|
|
Saturday, 20 June 2009 |
|
Beliau (juga dikenal dalam banyak nama lain, antara lain Sitibrit, Lemahbang, dan Lemah Abang) adalah seorang tokoh yang dianggap Sufiagama Islam di Pulau Jawa. Tidak ada yang mengetahui secara pasti asal-usulnya. Di masyarakat terdapat banyak varian cerita mengenai asal-usul Syekh Siti Jenar. dan juga salah satu penyebar |
|
Pemutakhiran Terakhir ( Sunday, 01 November 2009 )
|
|
Selengkapnya...
|
|
|
Reporter : Harmoko
|
|
Monday, 27 April 2009 |
|
Banyak orang menduga bahwa awal masuknya agama Buddha ke Indonesia adalah pada kedatangan Aji Saka ke tanah Jawa pada awal abad kesatu. Dugaan ini berawal dari etimologis terhadap Aji Saka itu sendiri, serta hal-hal yang berkaitan dengannya. Kata 'Aji' dalam bahasa Kawi bisa berarti ilmu yang ada hubungannya dengan kitab suci, sedangkan 'Saka' ditafsirkan sebagai kata Sakya yang mengalami transformasi. Dengan demikian mungkin kata Aji Saka ditafsirkan sebagai gelar raja Tritustha yang ahli mengenai kitab suci Sakya, dalam hal ini ahli tentang Buddha Dhamma, selain dianggap sebagai orang yang bertanggung jawab terhadap pembuatan aksara Jawa. Bila hal ini benar, tarikh Saka yang permulaanya dinyatakan sebagai 'Nir Wuk Tanpa Jalu' (Nir berarti kosong (0), Wuk berarti tidak jadi (0), Tanpa berarti 0 dan Jalu sama dengan 1) yang sekaligus dimaksudkan untuk mengabadikan pendaratan pertama beliau di Jepara. |
|
Pemutakhiran Terakhir ( Sunday, 01 November 2009 )
|
|
Selengkapnya...
|
|
|
|
<< Awal < Sebelumnya 1 2 Berikutnya > Akhir >>
|
| Hasil 1 - 13 dari 25 |